Keperhatinan Terhadap Eksekusi Tongkonan Ka’pun Ratte Luka Budaya Dan Korban Manusia

651

Tana Toraja, Sulawesi Selatan || faktaperistiwanews.co – Jumat 5/12/2025, Eksekusi Tongkonan Ka’pun Ratte Di Desa kurra, tana toraja telah meninggalkan kesan mendalam yang menyakitkan, baik dari sisi kerusakan simbol budaya leluhur maupun korban luka akibat bentrokan antara warga dan aparat pengaman.

Putusan pengadilan yang berujung pada eksekusi bangunan yang telah berdiri ratusan tahun ini berasal dari ketidak sepakatan dalam keluarga terkait hak kepemilikan dan pengelolaan tanah serta bangunan Tongkonan sebelum eksekusi, di kabarkan telah ada upaya mediasi dan penundaan guna mencari solusi damai, namun tidak mencapai kesepakatan. Saat aparat kepolisian malakukan eksekusi pada hari Kamis tidak terlaksana akibat alat excavator di bakar massa hingga di jatwalkan kembali jumat 5/12/2025).

” Ratusan warga yang berasal dari rumpun keluarga dan warga sekitar berbondong -bondong untuk melindungi Tongkonan, mereka melawan dengan batu dan petasan sebagai bentuk perlawanan kemudian petugas pengamanan dari kepolisian mengamankan dua orang atas nama omgon, dan ambek, mili, serta menanggapi dengan menembakan gas air mata dari kedua arah, yang menyebabkan bentrokan tidak seimbang dan situasi yang kacau. Hasilnya, kedua pihak menderita korban salah satu warga ambek tini, terluka parah di bahu sebelah kiri diduga akibat peluru nyasar dari gas air mata dan harus dirawat segera di puskesmas kurra, beberapa petugas pengamanan juga dilaporkan di lempari warga. setelah perlawanan warga teratasi, eksekusi tetap , enam bangunan lumbung ( alang),tiga bangunan pendukung, dan satu rumah panggung adat berasil di runtuhkan.

Setelah eksekusi selasai, petugas keamanan tetap waspada dan menjaga situasi di lokasi untuk mengantisipasi terjadinya kerusuhan kembali. masyarakat sekitar terlihat sedih dan kesal melihat kerusakan pada tongkonan yang telah menjadi puing puing bangunan rata dengan tanah yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka selama berabad-abad. Tongkonan bukan sekedar bangunan bagi masyarakat Toraja, melainkan pusat indetitas keluarga, tempat upacara adat dan cerminan warisan budaya yang tak ternilai bagi orang toraja yang menghargai nilai – nilai leluhur kami menyampaikan dukungan dan doa kepada keluarga Tongkonan ka’pun Ratte semamasa menghadapi masa – masa sulit ini.

Semoga masalah yang timbul dari ketidaksepakatan ini dapat diselasaikan dengan cara yang damai dan penuh rasa hormat, serta tidak ada lagi kerusakan budaya dan korban manusia di masa depan. semoga juga ada upaya untuk memulihkan atau melestarikan sisa – sisa warisan budaya yang tersisa.(Benyamin)