TAKALAR || faktaperistiwanews.co – Desa Kampung Beru, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, merayakan hari jadi keempat, Minggu (20/9/2026).
Perayaan tersebut dihadiri Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye bersama istrinya, Dewi Sri Ekowati Firdaus.
Turut hadir Kabag Forkopimda Takalar Amran Torada, Ketua DPRD Takalar Muhammad Rijal, serta anggota DPRD Takalar Hilal dan H Nurdin.
Hadir pula Camat Galesong Muh Ikhsan Larigau, Kepala Desa Kampung Beru Muhammad Ali, tokoh masyarakat, pembina pendamping mahasiswa KKN, serta masyarakat Desa Kampung Beru.
Dalam sambutannya, Daeng Manye mengatakan kegiatan di Desa Kampung Beru dapat menjadi inspirasi bagi desa lain di Kabupaten Takalar.
Ia menilai Kampung Beru memiliki sejumlah ciri yang menunjukkan adanya perkembangan meski baru berusia empat tahun.
“Menurut saya, saya tergiurkan, ya. Karena saya melihat bahwa Desa Kampung Beru ini punya ciri-ciri menjadi icon desa di Takalar untuk menjadi sosok kemajuan. Nanti saya ceritakan apa cirinya itu,” kata Daeng Manye.
Daeng Manye mengaku telah dua kali menghadiri perayaan hari jadi Desa Kampung Beru, yakni pada hari jadi ketiga dan keempat.
Ia melihat adanya perubahan dalam pelaksanaan kegiatan serta peningkatan partisipasi masyarakat.
“Yang kedua lebih meriah kedatangan saya dan lebih banyak aktivitas serta partisipasi masyarakat yang semakin baik dan luar biasa,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan Desa Kampung Beru terus bergerak meski usianya masih tergolong muda.
“Ini berarti Desa Kampung Beru bergerak terus semakin, walaupun usianya muda, 4 tahun, tapi ternyata punya gigi, punya nyali yang luar biasa untuk mau lebih maju,” katanya.
Daeng Manye menyebut Desa Kampung Beru saat ini masuk kategori desa maju.
Ia menyebut terdapat empat kategori perkembangan desa, yakni desa tertinggal, desa berkembang, desa maju, dan desa mandiri.
“Anaknya Kampung Beru masuk di desa maju, saya yakin 2-3 tahun ke depan akan naik ke desa mandiri,” ujarnya.
Menurut Daeng Manye, target tersebut dapat diwujudkan melalui program pemerintah desa bersama BPD, tokoh masyarakat, dan seluruh warga.
Desa Kampung Beru sendiri merupakan hasil pemekaran dari Desa Baralau.
Meski baru berusia empat tahun, Daeng Manye menilai perkembangan Kampung Beru tidak kalah dengan desa lain, termasuk desa induknya.
Ia kemudian menyebut sejumlah indikator yang menurutnya menjadi ciri kemajuan sebuah desa.
Indikator pertama adalah kepemimpinan desa yang inovatif dan kreatif.
“Yang pertama, pemimpimnya yang inovatif dan kreatif. Tepuk tangan dulu! Nanti Pak Desa minta bagian sama Toeng ini. Boleh-boleh. Tapi memang betul, kalau kalian pemimpin desa, ini salah satu pemimpin desa yang inovatif dan kreatif,” kata Daeng Manye.
Indikator berikutnya adalah sumber daya manusia dan kreativitas masyarakat.
Daeng Manye mencontohkan sejumlah pembangunan jalan di Kampung Beru yang menurutnya dilakukan melalui swadaya masyarakat.
“Ini disampaikan, jalan-jalan ini semua swadaya masyarakat, tidak ada menggunakan dana desa,” ujarnya.
Ia juga menyebut berbagai kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat Kampung Beru.
Di antaranya sunatan massal, bakti sosial, hingga pemberian perhatian kepada anak yatim.
Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan adanya kepemimpinan yang mampu menggerakkan masyarakat.
“Artinya di sini ada leadership, ada kepemimpinan menggerakkan dan ada partisipasi masyarakat untuk bersama-sama bergotong royong membangun desa,” katanya.
Daeng Manye mengatakan konsistensi kegiatan sosial dan meningkatnya partisipasi masyarakat menjadi salah satu ciri perkembangan Kampung Beru.
Selanjutnya, ia menilai pelayanan pemerintah desa juga menjadi bagian penting dalam kemajuan desa.
“Yang ketiga, tadi leadership kepemimpinan, yang kedua sumber daya, yang ketiga pelayanan. Saya yakin pelayanan desa ini semakin baik,” ujarnya.
Ia melihat informasi terkait program dan kegiatan desa mulai disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai media informas
(Rahman)







