Dede Farhan Aulawi, Narasumber Motivasi Kepemimpinan Kontemporer di PW GP Ansor Jabar

Bandung || faktaperistiwanews.co – Tantangan zaman yang terus berubah mengikuti segenap perubahan variabel lingkungan yang sangat dinamis. Salah satu faktor terpenting dalam hal ini adalah pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampaknya tidak sekedar merubah kebiasaan masyarakat itu sendiri, tetapi juga melahirkan model berfikir baru khususnya bagi kaum milenial yang cenderung lebih kritis dan logis. Apa yang disampaikan oleh pihak lain, baik unsur pemerintah ataupun bukan tidak ditelan begitu saja. Melainkan dicerna terlebih dahulu dan difikirkan apakah yang disampaikan tersebut dinilai logis atau tidak. Setiap kesalahan dalam alur cerita atau keliru dalam pemilihan kosa kata bisa berdampak keterangan tidak bisa diterima.

“ Dalam konteks inilah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, mau tidak mau akan menuntutnya untuk menambah khazanah literasi. Baca, baca dan baca harus menjadi sebuah keharusan agar bisa memahami arus zaman yang sedang mengalir deras. Kemampuan dan kemauan untuk selalu meningkatkan minat baca menjadi sebuah keharusan. Apalagi saat ini tidak ada satupun variabel tunggal yang berdiri sendiri. Setiap fenomena yang muncul ke permukaan pasti merupakan dampak kumulatif dari setiap variabel yang mempengaruhinya “, ungkap Motivator Dede Farhan Aulawi di Bandung, Selasa (23/8).

Hal tersebut ia sampaikan sekembalinya dari kegiatan pemberian motivasi kepemimpinan kontemporer yang diselenggarakan olen Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat di aula mudzdalifah asrama haji Bekasi. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan Latihan Instruktur I Angkatan IV dalam rangka menyiapkan kaderisasi instruktur guna kesinambungan regenerasi organisasi yang semakin maju.

Dalam pandangannya, bangsa Indonesia sesungguhnya merupakan masyarakat yang cerdas – cerdas. Hanya saja masih ada sebagian generasi muda yang belum termotivasi dan menyandarkan kesulitan pada berbagai format alasan, seperti perasaan rendah diri karena dari daerah, merasa orang bodoh atau merasa berasal dari keluarga miskin sehingga dengan pendidikan yang diperoleh saat ini merasa cukup apa adanya saja. Hal ini pula rupanya yang mendorong Dede untuk terjun langsung memotivasi generasi muda agar semakin berprestasi. Ia turun ke berbagai wilayah, bahkan dari desa ke desa, dari pesantren ke pesantren, termasuk dari kampus ke kampus saking ingin generasi muda Indonesia semakin maju dan sukses.

Kecintaanya terhadap bangsa dan tanah air, ia manifestasikan ke dalam berbagai program guna meningkatkan kompetensi dan daya juang seluruh anak bangsa. Meskipun kiprah juangnya tidak tercatat dalam lembaran sejarah perjalanan bangsa, tapi ketulusan dan dedikasinya dijadikan ladang pengabdian yang ikhlas. Berjuang bukan untuk mendapat pujian, tetapi berjuang sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan spiritual sehingga bisa semakin dekat dengan Yang Mahak Kuasa.

“ Jadilah setiap kita menjadi manusia yang mau dan bisa berbuat dengan ikhlas. Allah SWT Maha Tahu, Maha Melihat dan Maha Mendengar sehingga mengetahui apapun yang dilakukan oleh setiap umat manusia. Bahkan Allah tahu apa yang terbersit dalam hati dan fikiran kita. Jadi tebarkanlah benih kebaikan sebanyak – banyaknya, maka in sya Allah kita pun akan menuai kebaikan juga. Bukan hanya di dunia, tetapi juga in sya Allah di akherat kelak “, pungkas Dede mengakhiri obrolan.