SURABAYA // faktaperistiwanews.co – Minggu sore, 26 April 2026, kediaman Eri di Jalan Wonorejo 1, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, tampak berbeda dari biasanya. Suasana hangat nan produktif menyeruak di tengah kerumunan ibu-ibu yang antusias meracik bahan di atas meja kerja. Mereka bukan sedang memasak menu harian, melainkan sedang menyulap limbah minyak goreng bekas alias jelantah menjadi lilin aromaterapi yang bernilai ekonomi. Aksi ini menjadi bukti nyata bagaimana power of emak-emak di Bank Sampah Mutiara mampu menjawab tantangan lingkungan di tingkat akar rumput.
Di balik keceriaan sore itu, terselip kesadaran kolektif yang mendalam mengenai krisis lingkungan global. Data Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat bahwa dunia membuang sekitar 1,3 miliar kilogram pangan setiap tahunnya. Indonesia sendiri berada di posisi memprihatinkan sebagai penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia, dengan angka nasional mencapai 23 hingga 48 juta kilogram per tahun. Tak sekadar angka, perilaku membuang limbah rumah tangga ini berkontribusi langsung pada emisi gas rumah kaca yang mengancam masa depan.

Suasana mendadak hening ketika Ketua RW 03, Suprapto, maju untuk memberikan sambutan. Sesaat sebelum bicara, matanya berkaca-kaca. Dengan suara yang bergetar hebat menahan haru, ia mengucapkan terima kasih kepada Walhi Jawa Timur dan Gusdurian yang telah hadir membawa perubahan. Jemarinya perlahan menyeka air mata yang jatuh di pipinya, sebuah luapan rasa bangga yang tak terbendung melihat warga dan ibu-ibu di wilayahnya kini mampu berdaya dan mandiri.
Dalam pelatihan tersebut, Ike Nurjanah dan Irfan Budi Utomo dari Gusdurian Surabaya memandu warga dengan formula presisi: 60% palm wax, 35% minyak jelantah, dan 5% bibit wangi. Dalam satu kelompok, 300 gram bahan diolah menjadi lilin fungsional yang tak hanya hemat biaya, tetapi juga ramah lingkungan. Nini Andayani, S.Pd, selaku Fasilitator Lingkungan Kelurahan Wonorejo, menyebut bahwa langkah ini adalah perpaduan antara edukasi lingkungan dan peningkatan ekonomi rumah tangga yang krusial untuk mengurangi beban ekosistem sungai.
Kegiatan ini menjadi pengingat bagi warga Surabaya bahwa langkah kecil di tingkat RW bisa menjadi benteng pertahanan ekologis. Seperti pesan yang sering disampaikan dalam komunitas, sampah bukanlah musuh yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang menunggu untuk diberdayakan. Dengan semangat “Salam 3R” yang diteriakkan di akhir acara, para ibu di Wonorejo telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar konsumen limbah, melainkan pahlawan bagi keberlanjutan bumi bagi generasi mendatang.(Ysf)
