Ironi Simbiosis: Lahir ‘Mendadak Dangdut’, Bertahan Demi ‘Fulus’, Ditinggal Saat ‘Melempem’ (Part 1). Oleh: Y. Dwipa Wijaya
Surabaya || Faktaperiastiwanews.co – AROMA TIKUS DAN KESADARAN ‘MENDADAK DANGDUT ’
17 November 2025, Cerita ini dimulai dari indra penciuman. Dari aroma. Jauh sebelum ada buku tabungan, timbangan digital, dan tumpukan karung terpilah rapi, gang di Wonorejo I, Surabaya, memiliki aroma yang berbeda. Tanyalah pada Bu Sayem, warga yang rumahnya beralamat di Nomor 15. Ia ingat betul pemandangan—dan bau—sebelum Bank Sampah Mutiara (BSM) lahir.
“Sebelum ada bank sampah, saat pemulung memunguti sampah, seringkali pasca dipunguti, sampah berserakan,” kenangnya. Sampah yang berserakan itu, lanjutnya, mengundang masalah baru. “Banyak tikus yang berkeliaran untuk memakan bekas sampah yang berserakan, serta bau yang tidak sedap.”
Saat itu, sampah adalah racun. Sebuah masalah komunal yang diselesaikan secara individual. Dibuang ke tempat sampah, dibiarkan diambil pemulung, atau, jika tak ada yang mengambil, berakhir di TPS. Sampah adalah hilir dari konsumsi harian, sebuah akhir yang merepotkan dan kotor. Hingga suatu hari di akhir tahun 2023, perubahan datang dalam bentuk… sebuah lomba.
Mbak Eri Myryawati, yang sekarang menjadi motor penggerak sekaligus Ketua BSM, menceritakannya dengan kejujuran yang lugas. Bank sampah ini tidak lahir dari sebuah visi ekologi yang agung. Ia lahir dari kebutuhan pragmatis.
“Dulu kan ikut lomba, awal mulanya itu ikut lomba lingkungan,” akunya saat diwawancarai. Itu sekitar bulan September atau Oktober 2023. Salah satu persyaratannya: “harus ada, punya bank sampah”.
“Akhire (Akhirnya) ‘mendadak dangdut’, kita buat bank sampah,” kata Mbak Eri.
Sebuah frasa yang sempurna untuk menggambarkan inisiatif yang tergesa-gesa namun perlu. Para pemangku wilayah, Pak RT dan Pak RW, setuju. Ibu-ibu kader, yang berlokasi paling dekat di RT 5 dan RT 6, ditunjuk menjadi pengurus.
Lomba itu datang dan pergi. Selesai. Tapi sesuatu yang aneh terjadi. Sesuatu yang ‘mendadak dangdut’ itu ternyata berlanjut.
“Disepakati, ‘Yo wis (Ya sudah), terus berjalan’,” kata Mbak Eri.
Maka, lahirlah “Mutiara” di atas kertas.
PERJUANGAN – ‘PERANG’ PKK DAN UANG JAJAN ANAK
Pada 14 September 2023, sebuah Surat Keputusan (SK) resmi dari Kelurahan Wonorejo terbit. SK bernomor 188.4/53/436.9.27.5/2023 itu ditandatangani oleh Lurah Noercholis Yasin Soetrisno, S.E..
Di atas kertas, “Simbiosis” itu telah resmi terbentuk. BSM Mutiara sah, dengan delapan nama pengurus, lengkap dengan NIK dan alamat. Ketua: Eri Myryawati.
Tapi SK hanyalah kertas. Di lapangan, perjuangan sesungguhnya baru dimulai.
Hulu sesungguhnya dari bank sampah bukanlah SK dari lurah, tapi kesadaran warga. Dan itu, adalah perjuangan pertama mereka.
“Tantangannya yaitu kesadaran warga itu kadang-kadang kurang gitu ya,” ujar Mbak Neng, pengurus lainnya.
Masalahnya ada dua, sederhana namun fundamental: malas dan tempat.
“Terus misale (misalnya) sampah itu menumpuk banyak, terus mungkin kan kerepotan,” lanjut Mbak Neng. Ini adalah masalah logistik yang nyata. “Mungkin kan kalau rumahnya kecil gitu kan, ‘Iki wis numpuk akeh’ (Ini sudah menumpuk banyak). Iya.” Wajar. Penimbangan dijadwalkan sebulan sekali. Menyimpan sampah, bahkan sampah kering yang sudah terpilah, selama 30 hari di rumah gang yang sempit adalah sebuah kemewahan yang tak semua orang miliki.
Masalah kedua adalah malas. Mentalitas lama sulit diubah.
“Wis, timbangane (Sudah, daripada) nimbun… nimbun sampah kayak botol, segala macem, wis mending tak masuk… apa? Tak buang aja,” kata Mbak Neng, merangkum pemikiran awal warga.
Maka, perang kesadaran pun dimulai. Medan tempurnya? Pertemuan-pertemuan PKK di setiap RT. Senjata mereka? Sosialisasi tanpa henti.
Mbak Eri dan para kader “menjual” program ini. Mereka tidak berbicara tentang perubahan iklim atau lubang ozon. Mereka berbicara bahasa yang dimengerti warga. “Cara memilahnya gimana, terus jenis-jenisnya seperti apa, dan keuntungannya itu apa,” tutur Mbak Eri merinci materi sosialisasinya.
Kata kunci terakhir itulah yang mengubah segalanya: keuntungan.
Perlahan, pandangan warga terhadap sampah berubah. Sesuatu yang dulu dianggap ‘racun’ kini dilihat sebagai ‘berkah’. Warga mulai melihat sampah bukan lagi sebagai masalah, tapi sebagai peluang.
Bu Tarmi, warga Wonorejo I Nomor 105, merasakan betul perubahan itu meresap ke dalam rutinitas rumah tangganya.
“Ya ada, Mas,” katanya, “warga sekitar sekarang bisa tahu dan memilah mana sampah yang bisa dijadikan uang (disetorkan ke BSM), dan mana sampah yang tidak bernilai ekonomi.”
Perubahan paling menyentuh, menurutnya, terjadi pada generasi berikutnya. Pada anak-anak. “Secara tidak langsung, anak-anak meniru apa yang kami lakukan,” ujarnya.
Ia kemudian menceritakan dialog sederhana namun kuat yang kini rutin terjadi di dapurnya, sebuah dialog yang merangkum inti dari simbiosis grassroot ini:
Anak: “Gawe opo sich bu botol plastic bekas ngombe?” (Buat apa sih bu botol plastik bekas minum?). Bu Tarmi: “Yo buat sangumu nak, ben sangumu isok tak sangoni sak bendino.” (Ya buat uang jajanmu nak, biar bisa ibu kasih uang jajan setiap hari.)
Inilah hulu yang sesungguhnya. Kesadaran yang lahir dari kebutuhan. Sebuah simbiosis mutualisme yang paling murni: lingkungan bersih, anak dapat uang jajan.
Hasilnya terukur. Mbak Eri mengenang, “Eh, awalnya cuman berapa nasabah? 10 nasabah kalau enggak salah.” Setelah sosialisasi bulanan dari RT ke RT, “setiap bulannya naik, jadi nambah nasabahnya.” “Dari 10 jadi 15, jadi 20,” katanya. Kini, jumlahnya stabil di 40 nasabah.
Bagi Bu Sayem, kemenangan itu terasa nyata. “Yang sebelumnya volume sampah menggunung, dan sering dijadikan sumber makanan bagi tikus-tikus… setelah adanya BSM serta penyuluhan… akhirnya para warga bisa mengelompokkan,” katanya.
Gang menjadi lebih bersih. Aroma tikus berganti menjadi aroma kebersamaan. Kegiatan penimbangan bulanan, kata Bu Tarmi, bukan lagi sekadar transaksi. Itu adalah ritual sosial. “Ya iyalah, Mas,” tegasnya, “kegiatan penimbangan rutin itu… perlu banyak orang… makin senang ibu-ibu…”
EKONOMI RECEH – MESIN PENGGERAK SIMBIOSIS
Mutiara bertahan bukan cuma karena gotong royong. Mutiara bertahan karena fulus. Bukan ekonomi skala besar, tapi ekonomi receh yang vital dan berkelanjutan.
Simbiosis ini bekerja karena ada insentif yang jelas. Tanyakan pada Bu Lasda, warga Wonorejo I Nomor 59. Ia adalah nasabah terdaftar. Baginya, manfaat bank sampah sangat harfiah.
“(Hasil tabungan) Untuk jelantah ya untuk membeli minyak goreng,” akunya. “Kalau kardus dan botol-botol plastik untuk sangu-nya jajan anak-anak, Mas.”
Saat ditanya seberapa besar dampaknya, ia tak ragu. “Meskipun jumlah tidak besar ya, Mas, tetapi untuk saat ini memang bisa membantu meringankan pengeluaran keluarga kami.”
Inilah inti dari ekonomi sirkular di tingkat grassroot. Ini bukan tentang menyelamatkan dunia. Ini tentang membeli minyak goreng dan memberi uang jajan.
Mekanisme Mutiara memang dirancang untuk itu. Dalam wawancara terpisah, seorang narasumber pengurus (kemungkinan besar Mbak Eri, berdasarkan jabatannya) merinci alur kerja yang sudah mapan.
• Hulu (Warga): Proses dimulai dari rumah tangga. Warga “memilah sendiri di rumah masing-masing”. Sampah kering dipilah rinci: “botol biru, jenis botol putih, terus mana yang kaleng, mana yang plastik.”
• Penimbunan: Warga “menimbun dulu di dalam rumah masing-masing”. Ini adalah tantangan yang diakui Mbak Neng sebelumnya.
• Penyetoran: “Penimbangan satu atau 3 bulan sekali, fluktuatif”. Warga menyetor ke BSM.
• Proses Timbang: Di BSM, sampah ditimbang oleh petugas “berdasarkan jenisnya”.
• Pencatatan (Administrasi): Di sinilah buku tabungan berperan. “Setelah itu kita catat. Ada teller… ini proses pencatatannya.”
• Pembayaran: Uang tabungan itu, seperti dijelaskan Mbak Eri di wawancara pertama, bisa dicairkan “setiap 3 bulan sekali”.
Sistem ini transparan. Tapi, dari mana BSM sebagai organisasi mendapat untung?
Di sinilah letak model bisnisnya. Mbak Neng menjelaskannya dengan gamblang. Ada pemotongan 10% dari harga jual.
“Misalkan harganya untuk kardus itu… per kilonya misalkan katakan 1.000 gitu, nanti potong 10%,” jelasnya. “Jadi mereka enggak dapat 1.000, jadi dipotong 10%-nya dari 1.000.”
Potongan 10% ini, yang menurut Mbak Eri disepakati bersama, menjadi kas pengurus. Uang kas ini digunakan untuk apa?
“Ya, kita… kita bagi hasil dengan pengurus,” kata Mbak Neng. Uang itu dikumpulkan. “Nanti kalau sudah banyak baru kita memikirkan untuk apa.” “Apa untuk beli seragam, apakah untuk, eh, jalan-jalan, atau untuk ya pokoknya keperluan inilah. Kan kembali ke pengurus.”
Ini adalah self-reward. Ini adalah insentif bagi para pengurus yang rela “melempem” (seperti kata Mbak Eri nanti) untuk mengurus sampah. Ini adalah simbiosis internal yang membuat para pengurus tetap semangat.
ROLLERCOASTER – DENYUT NADI DATA MUTIARA
Simbiosis ekonomi ini tampak sehat dan berkelanjutan. Tapi data mentah dari buku kas BSM Mutiara melukiskan gambaran yang lebih rumit. Mengelola bank sampah, ternyata, ibarat seorang petani. Ada musim panen, ada musim paceklik.
Laporan penjualan sampah kering BSM Mutiara dari Maret 2024 hingga Agustus 2025 menceritakan fluktuasi yang tajam.

(Diagram 1)
Visualisasi dari data tabel menunjukkan fluktuasi liar. Puncak di Maret 2024 (226,4 Kg) dan April 2025 (228 Kg), namun anjlok di Mei 2024 (78,4 Kg) dan Desember 2024 (112,6 Kg).

(Diagram 2)
Visualisasi dari data tabel menunjukkan fluktuasi pendapatan. Puncak di November 2024 (Rp 344.495) dan September 2024 (Rp 341.280), terendah di Mei 2024 (Rp 150.230). (Data April 2025 tidak ditemukan/hilang)
Ini adalah denyut nadi Mutiara. Naik, turun, tidak pernah stabil. Pendapatan mereka “tidak menentu”.
Tapi data ini menyimpan rahasia. Sebuah wawasan penting yang hanya bisa didapat dengan membandingkan kedua diagram tersebut.
Lihatlah temuan ini: Berat BUKAN Berarti Uang Paling Banyak.
Ini adalah temuan paling menarik dari analisis data mereka. Mari kita bedah kasus per kasus, langsung dari data mereka:
• Maret 2024: Sampah terkumpul 226,4 Kg (sangat berat). Pendapatan: Rp 247.925.
• November 2024: Sampah terkumpul 216,4 Kg (lebih ringan 10 Kg). Pendapatan: Rp 344.495 (jauh lebih tinggi).
Kesimpulannya? Jenis dan kualitas sampah di bulan November jauh lebih “mahal” harganya per kilo dibanding bulan Maret. Ini membuktikan bahwa mengedukasi warga untuk memilah sampah “mahal” (seperti logam atau plastik bersih) jauh lebih menguntungkan.
Lalu, siapa ‘tulang punggung’ Mutiara? Siapa pahlawan tanpa tanda jasa yang membayar uang jajan anak-anak Wonorejo?
Data pendapatan yang telah disesuaikan menjawabnya dengan gamblang.

(Diagram 3)
• PLASTIK: Rp 1.792.105
• KERTAS: Rp 879.065
• BOTOL: Rp 98.665
• LOGAM: Rp 50.100
• LAIN-LAIN: Rp 34.630
Plastik. Dan Kertas. Itulah napas mereka. Itulah mesin yang membuat simbiosis ekonomi ini terus berputar…….. (Bersambung)
