SURABAYA // faktaperistiwanews.co– Suksesnya penyelenggaraan Salat Iduladha 10 Zulhijah 1447 H oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tegalsari di Lapangan Dr. Sutomo (Taman Korea) menjadi potret nyata keberhasilan pola regenerasi organisasi di tingkat akar rumput. Keterlibatan aktif para kader muda yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dari SMP Muhammadiyah 3 terbukti menjadi tulang punggung utama kepanitiaan, terutama saat ketahanan mental mereka diuji langsung oleh faktor alam, Rabu (27/5/2026).
Tantangan berat sudah menghadang panitia sejak H-1. Guyuran hujan dengan intensitas sangat tinggi melanda kawasan Tegalsari pada malam hari menjelang pelaksanaan salat, mengakibatkan area lapangan terbuka tersebut digenangi air di berbagai sudut. Kondisi ini diperparah dengan pudarnya garis-garis saf yang telah dipersiapkan dengan rapi sejak sore hari. Faktor cuaca ekstrem tersebut sempat membuat mental anak-anak IPM yang bertugas di lapangan menurun (down) karena bayang-bayang kegagalan acara dan kekhawatiran jemaah tidak akan ada yang bersedia hadir.
Namun, situasi berbalik seratus delapan puluh derajat saat subuh menjelang. Dorongan motivasi internal dan spirit kebersamaan yang kuat membuat para kader muda ini kembali bergerak cepat ke lapangan guna melakukan pembenahan darurat. Dari prediksi awal yang sempat pesimistis bahwa jemaah yang datang mungkin hanya berkisar di angka 100 hingga 200 orang akibat kendala lapangan basah, koordinasi taktis para kader di pintu-pintu masuk justru berhasil menyambut dan mengarahkan gelombang kehadiran warga yang luar biasa hingga mencapai 500 jemaah.

Landasan Riset Penguat. Ketangguhan emosional yang ditunjukkan oleh para remaja ini memperkuat hasil riset empiris dari Center for Study of Religion and Gender mengenai keterlibatan anak muda dalam organisasi keagamaan. Studi tersebut memaparkan bahwa keterlibatan aktif generasi muda dalam kepanitiaan kegiatan komunitarian yang berbasis interaksi langsung (face-to-face) efektif meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) serta daya resiliensi (adversity quotient) mereka hingga 40% lebih tinggi. Tantangan fisik di lapangan, seperti penanganan krisis akibat cuaca buruk, melatih kemampuan pemecahan masalah (problem-solving) kolektif yang tidak didapatkan dalam ruang kelas formal maupun aktivitas digital pasif.
Ketua PCM Tegalsari, Sofyan Affandy Yusuf, S.Kom., dalam evaluasi pasca-acara menyampaikan rasa bangganya terhadap determinasi para pelaksana muda tersebut. Sinergi yang solid antara ortom seperti IPM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, hingga sokongan dari Ibu-ibu Aisyiyah merupakan kunci utama di balik kesuksesan perhelatan tahun ini. Sofyan menegaskan bahwa PCM Tegalsari berkomitmen penuh untuk terus memberikan ruang strategis bagi kader-kader muda dalam setiap kegiatan besar, demi memastikan bahwa roda organisasi Muhammadiyah ke depan selalu digerakkan oleh tenaga muda yang responsif, adaptif, dan tahan banting terhadap segala situasi.(Ysf)
