DaerahNews

Bisikan Batu yang Menolak Terlupa

Share
Share

Malang // faktaperistiwanews.co. – Seruput dulu kopimu, Sahabat. Mumpung masih hangat. Di luar, angin sore sedang malas bergerak, mirip seperti suasana di Jalan Raya Candi Kidal saat jam menunjuk tepat pukul empat sore pada hari Selasa, 01 Juli 2026 itu. Bayangkan saja, kita berkendara sejauh dua puluh kilometer ke arah timur dari sesaknya pusat Kota Malang, membelah jalanan hingga sampai ke Desa Rejokidal di Kecamatan Tumpang. Di sanalah dia berdiri. Candi Kidal. Sebuah monumen andesit yang tegak sendirian di sebuah lembah subur, dijepit oleh sunyinya lereng barat Pegunungan Tengger.

Sore itu, surya seolah sengaja menumpahkan sisa cahaya emasnya langsung ke tubuh candi. Membuat batu-batu tua itu menyala. Di sudut pelataran, seorang lelaki paruh baya berdiri diam. Topi rimba membingkai wajahnya yang tenang, dipadukan dengan kaos putih polos dan celana kain hitam yang tampak bersahaja. Namanya Pak Imam. Ketika kami datang mendekat pada Selasa sore itu, tatapannya lekat menembus relief demi relief, seolah-olah dia tidak sedang melihat benda mati, melainkan sedang berbisik… berkomunikasi dengan sesuatu yang tak kasat mata di balik dinding batu itu.
Beliau menoleh, melemparkan senyum yang teramat teduh, lalu mempersilakan kami duduk di dekatnya. Suaranya berat, namun ada nada bergetar yang intim saat kalimat pertamanya meluncur hangat.

“Matur nuwun, sudah mau datang ke sini,” ucapnya lirih. “Candi ini bukan sekadar tumpukan batu purba. Di sinilah abu Raja Anusapati didarmakan. Beliau wafat tahun 1248 Masehi, Saudaraku. Dan butuh waktu berpuluh-puluh tahun, kira-kira sampai tahun 1260 Masehi, hingga pesta pedharman agung ini selesai didirikan setelah upacara Sraddha. Dua belas tahun penuh penantian… hanya untuk memastikan jiwa suci sang raja benar-benar sempurna menuju nirwana.”

Pak Imam terdiam sejenak. Matanya menyipit, menerawang jauh ke pucuk candi yang memotong langit senja. Ada garis kecemasan yang tiba-tiba melintas di dahinya yang mulai berkerut. Ritme bicaranya yang tadinya lambat dan mengalir, mendadak bergeser menjadi agak tertahan, penuh beban emosional yang disembunyikannya rapat-rapat.

Dia gelisah, Saudaraku. Sangat gelisah. Dia bercerita betapa anak-anak muda zaman sekarang datang ke sini kadang hanya untuk berswafoto tanpa mau mengerti esensi laku spiritual leluhur. Banyak yang kehilangan “Jawanya”. Mereka tercerabut dari akar sejarah, silau oleh gemerlap budaya luar, dan melupakan bahwa di bawah kaki mereka ada peradaban sedahsyat ini. Kehilangan jati diri di tanah air sendiri… bukankah itu bentuk penjajahan gaya baru yang paling menakutkan?
Lalu dia mengajak kami berjalan ke bagian belakang candi, langkah kaki kain hitamnya bergesek cepat dengan rerumputan. Iramanya berubah buru-buru, memburu sisa matahari yang kian temaram.

“Lihat ini,” tangannya menunjuk ke area Petirtan. “Dulu ini cuma satu titik sumber air yang terbengkalai. Tapi berkat gotong royong teman-teman yang peduli, tepat pada hari Supas Kemis jam sembilan pagi beberapa waktu lalu, kami meletakkan batu pertama perombakan. Sekarang? Sudah berkembang jadi dua sampai tiga titik sumber air yang alirannya dipisah rapi untuk laki-laki dan perempuan.”

Dia tersenyum bangga, namun sejurus kemudian suaranya kembali melambat, kembali berbisik memperingatkan tentang tata cara sowan yang benar. Baginya, menyucikan diri di petirtan atau melarang wanita yang sedang haid mendekati struktur utama bukan karena mistis yang dibuat-buat. Ini soal keselarasan energi makrokosmos. Jika dilanggar? Energi sakral raja kuno yang punya kekuatan setara presiden modern bisa berbenturan, membuat peziarah linglung atau bahkan jatuh sakit saat pulang.(Ysf)

Share
Related Articles
DaerahNews

Kalah di MA, Pemkot Surabaya Tak Bisa Lagi Sembunyikan AMDAL Benowo

SURABAYA, faktaperistiwanews.co. – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur mendesak Pemerintah...

DaerahNews

Maut di Dalam Tangki PT Elnusa Bitung, Dugaan Kelalaian K3 Disorot: Polisi Diminta Usut Tuntas, Jangan Ada yang Kebal Hukum

BITUNG || Faktaperistiwanews.co -Meninggalnya seorang pekerja di dalam tangki mobil milik PT...

NewsTokoh

Allah Takkan Pernah Memberikan Kesedihan kepada Hamba-Nya Kecuali untuk Membahagiakannya

Oleh : Dede Farhan Aulawi Bandung || faktaperistiwanews.co - Di setiap perjalanan...