Surabaya || faktaperistiwanews.co – Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya Tjutjuk Supariono menuturkan, terkait permakanan yang di keluhkan masyarakat hanya diberhentikan tiba-tiba, pihaknya beberapa waktu lalu sudah memanggil Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya.
“Kita panggil pihak Dinsos sekaligus mendapat penjelasan oleh Kadinsos Anna Fajriatin bahwa, sudah dilakukannya sosialisasi,” jelas Tjutjuk Supariono dalam keterangannya, Jum’at (20/1).
“Nah, ini yang belum terbiasa, Kadinsos Anna Fajriatin sudah presentasikan kepada jajaran Camat, Lurah hingga tingkat RW untuk sosialisasikan,” ujarnya.
Tujuan sosialisasi itu, supaya mengenal tata cara atau birokrasi terkait permakanan tersebut. Karena, berbeda dari sebelumnya. Menurut Tjutjuk, telah terjadi kebuntuan dari para Kelurahan setempat dengan kurang paham terkait permakanan ini.
“Sempat kita gelar rapat di Komisi D, ada 3 (tiga) Kelurahan yang tidak paham sama sekali tentang permakanan,” katanya.
Padahal dinsos itu, sambungnya, yang menghandle data permakanan dari masing-masing Kelurahan.
Dia juga mengusulkan, untuk Dinsos dari pihak masyarakat yang sudah terhapus data permakanan, tapi menginginkan lagi solusi itu melalui musyawarah pembangunan kelurahan (Musbangkel).
“Bisa juga diusulkan melalui RW, bagian kesejahteraan masyarakat (Bag Kesra) Kelurahan setempat, dan kemudian ditindaklanjuti oleh Dinsos Kota Surabaya,” paparnya.
Sejauh ini, Tjutjuk telah melihat permasalahan permakanan tidak ada kejelasan. Padahal yang sebenarnya sosialisasi kurang masif.
“Program permakanan ini bagus, tetapi ketika tidak diberitahukan sosialisasi yang jelas, maka masyarakat juga tidak tahu,” ungkapnya.
Ketua Fraksi PSi telah menilai, kebanyakan pihak kelurahan mengirim administrasi bagian Kesra, atau perwakilan yang lain. Bukan dari Lurah sendiri yang terjun lapangan untuk menyampaikan sosialisasi permakanan ini.
“Ketika kita datangi ke Kelurahan, untuk sistem permakanan mereka belum paham. Jadi, masukkan dari Dinsos agar supaya melakukan sosialisasi lagi. Karena, apabila permakanan tidak diketahui masyarakat, akan menjadi polemik,” pesan Tjutjuk. (uzi/yud)
