Membaca Jejak Operasi Intelijen ‘COLOUR REVOLUTION’ di Beberapa Negara Oleh : Dede Farhan Aulawi

703

Bandung || faktaperistiwanews.co – Ada beberapa pertanyaan yang masuk ke handphone terkait beberapa kerusuhan yang terjadi di beberapa negara akhir – akhir ini. Mulai dari Indonesia, Nepal, Perancis, dan seterusnya. Apakah kejadian tersebut murni terkait kesulitan ekonomi atau ada kaitannya dengan revolusi berwarna (Colour Revolution) yang merupakan operasi intelijen CIA ?

Nah pada kesempatan ini, saya hanya ingin menjelaskan tentang apa yang disebut Colour Revolution, karena bagi sebagian masyarakat mungkin terdengar asing. Operasi CIA “Colour Revolution” merujuk kepada strategi destabilisasi, operasi intelijen CIA jika ingin merubah suatu rezim pemerintahan di suatu negara yang dinilai tidak “pro AS”. Bentuk operasinya melalui dukungan kepada gerakan pro-demokrasi, pro-Barat, atau pembangkang di negara-negara yang mempunyai rejim yang tidak sejalan dengan kepentingan geopolitik Amerika Serikat.

“Colour Revolution” pada dasarnya sebuah istilah yang merujuk pada gelombang protes besar-besaran yang terjadi di negara-negara bekas Soviet dan yang lainnya pada awal 2000-an yang membawa kepada kejatuhan pemerintah. Secara umum cirinya adalah :

  • Simbolisme warna atau bunga, contohnya Revolusi Oranye di Ukraine dan Revolusi Mawar di Georgia
  • Demonstrasi besar-besaran.
  • Penggunaan media sosial dan NGO internasional
  • Dukungan dari organisasi Barat termasuk AS dan EU.

Sejak era Perang Dingin, Central Intelligence Agency (CIA) telah terlibat dalam banyak operasi rahasia (covert operations) di berbagai negara yang dianggap mengancam kepentingan strategis, ekonomi, atau ideologis AS. Terutama negara-negara yang dekat dengan Uni Soviet, komunis, atau anti-Barat. Perlu diingat bahwa CIA tidak selalu bertindak secara langsung, tapi bisa melalui dukungan finansial/logistik kepada oposisi lokal, propaganda media, mempersenjatai kelompok pemberontak, operasi psikologis dan manipulasi opini publik, serta dukungan terhadap revolusi berwarna atau gerakan pro-demokrasi yang dianggap “pro-Barat”.

Ada beberapa contoh revolusi yang terjadi di beberapa negara dan dikaitkan dengan peranan CIA atau AS, diantaranya Revolusi Bulldozer di Serbia tahun 2000 melalui NGO seperti Otpor dan bantuan AS, Revolusi Mawar di Gorgia tahun 2003 melalui dukungan pada partai oposisi dan NGO, Revolusi Oranye di Ukraina tahun 2004 melalui USAID, Freedom House, dan NED, serta Revolusi Tulip di Kyrgystan tahun 2005 melalui berbagai propaganda Barat.

Lembaga seperti USAID, National Endowment for Democracy (NED), dan Open Society Foundations seringkali diduga mendanai LSM dan gerakan pro-demokrasi. CIA tidak selalu terlibat secara langsung, tapi sering dituduh memfasilitasi perubahan melalui berbagai program, seperti pelatihan aktivis, pendanaan media alternatif, dan teknologi komunikasi (VPN, media sosial, dll). Adapun tujuan utama operasi Ini, adalah menjaga hegemoni AS, mengamankan sumber daya strategis (minyak, logam, dll), membendung pengaruh negara rival (Rusia, China, Iran, dll), dan menyebarkan demokrasi liberal (versi AS).

Banyak dari operasi ini menyebabkan instabilitas politik, perang sipil, rezim otoriter baru yang brutal (contoh: Pinochet), dan kehancuran ekonomi. AS hanya mendukung demokrasi jika hasilnya menguntungkan kepentingannya. Penggunaan revolusi berwarna juga dituduh sebagai alat geopolitik, bukan benar-benar demi hak asasi manusia. Beberapa peristiwa yang bisa dijadikan pelajaran, misalnya :

  1. Iran (1953) – Operasi Ajax. CIA dan intelijen Inggris (MI6) menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, yang nasionalisasi industri minyak Iran. Digantikan oleh Shah Iran yang pro-Barat. Metode : propaganda, demo bayaran, korupsi pejabat, militer loyal pro AS.
  2. Chile (1973) – Kudeta terhadap Salvador Allende. Presiden Allende adalah sosialis terpilih secara demokratis. CIA mendukung kudeta militer yang membawa Jenderal Augusto Pinochet berkuasa. Metode : pendanaan oposisi, sabotase ekonomi, pengaruh media.
  3. Guatemala (1954). Presiden Jacobo Árbenz melakukan reformasi agraria yang merugikan perusahaan AS (United Fruit Company). CIA meluncurkan Operasi PBSUCCESS : propaganda, pemberontakan, dan dukungan militer untuk menggulingkannya.

Melalui tulisan ini, semoga seluruh masyarakat Indonesia selalu waspada terhadap segala kemungkinan rongrongan asing yang ingin mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri. TNI dan Polri harus selalu solid karena ini menjadi modal dasar kuatnya NKRI. Jangan terjebak oleh skenario adu domba dan pecah belah serta propaganda dan agitasi opini dari pihak manapun. Semoga bermanfaat.

Referensi dari tulisan ini, adalah :

  • “Legacy of Ashes: The History of the CIA” – Tim Weiner
  • Dokumen deklasifikasi CIA (melalui FOIA)
  • Tulisan investigatif oleh jurnalis seperti Seymour Hersh dan John Pilger
  • Laporan lembaga seperti WikiLeaks dan The Intercept

(red)