Surabaya || faktaperistiwanews.co – Beberapa murid kejuruan SMKN 12 Surabaya, menunjukkan hasil karya dalam Pameran Indist (Interactive In Arts And Tecnology)’ mulai 15 Mei sampai dengan 18 Mei 2023 di Balai Pemuda Surabaya.
“Ini merupakan pameran Indist diadakan SMKN 12 Surabaya sekolah berbasis seni dan teknologi. Karya mereka ditampilkan dalam sebuah pameran saat tugas akhir,” ungkap Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMKN 12 Surabaya, Mardi kepada faktaperistiwanews.co, Rabu (17/5).
Pameran seperti ini sebagai budaya yang digelar setiap tahunnya. Disebutkan bahwa, pameran Indist bukan hanya sebagai apresiasi karya siswa-siswi, tapi agar anak dapat terlatih memberikan pemahaman informasi untuk masyarakat.
“Kita diberikan bekal ilmu siswa-siswi melalui terjun praktek berwirausaha. Sehingga mampu mempresentasikan hasil karya untuk masyarakat umum,” ujar Mardi.
Tak hanya itu, sambungnya, para siswa-siswi kelas XII saat kelulusan, mereka sudah mempunyai pembekalan khusus dan tentu dapat menguasai. Melalui pameran Indist murid menampilkan karya bakat tersebut.
Disamping itu, pameran Indist sangat bermanfaat bagi siswa-siswi. Karena, masing-masing dapat imajinasikan langsung ataupun praktek dunia kerja melalui karya itu. Disisi lain, pihak industri bisa mengapresiasi dapat berkesempatan peluang bekerja sama dari hasil produk karya anak-anak.
“Bisa juga nanti setelah lulus sekolah, mereka dapat di rekrut tenaga kerja oleh pihak industri,” papar Mardi.
Pada kesempatan itu, Guru Kejuruan Produksi Film SMKN 12 Surabaya, Moh. Agung Sulistyanto mengatakan, pemeran Indist sangat bermanfaat bagi anak bisa mengeksplorasi untuk berkompetensi. Namun, harus juga diimbangi kompetensi dasar.
“Jadi, segala aspek siswa-siswi harus menguasai, baik pengambilan gambar, editing. Kedepannya saat lulus nanti mereka dapat mengambil jenjang kerja menjadi kameramen, dan sutradara maupun lainnya sesuai bidang kejuruan,” tuturnya.
Kejuruan Produksi Film di SMKN 12 Surabaya, juga diajarkan pembelajaran management produksi. Intinya, lanjutnya, anak mendapat bekal belajar tidak hanya membuat, tetapi dapat mengelola sebuah perusahaan produksi film itu sendiri.
“Semua bekal ilmu pengetahuan kita berikan dalam mengolah produksi film, murid telah menguasai,” pungkas Agung. (uzi/yud)