Oleh: Dr. Dedy Surahman, S.E., M.M.
Jumat, 1 Mei 2026
Surabaya// faktaperistiwanews.co .Hari Buruh seharusnya tidak hanya menjadi panggung tuntutan upah, tetapi juga momen refleksi tentang bagaimana pekerja mengelola hasil jerih payahnya. Kenaikan gaji memang penting, tetapi tanpa literasi keuangan yang memadai, peningkatan pendapatan sering kali tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan.
Realitasnya, banyak pekerja yang masih terjebak dalam siklus “gaji habis sebelum tanggal tua.” Bukan semata karena penghasilan yang rendah, tetapi karena minimnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan: mulai dari penyusunan anggaran, pengendalian utang, hingga perencanaan masa depan. Di sinilah literasi keuangan menjadi kunci. Ia bukan sekadar pengetahuan, tetapi keterampilan hidup yang menentukan apakah seseorang hanya bekerja untuk bertahan, atau mampu bekerja untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Momentum Hari Buruh juga relevan untuk menyoroti pentingnya keseimbangan antara konsumsi dan investasi. Pekerja berhak menikmati hasil kerjanya, namun tanpa alokasi untuk tabungan, dana darurat, dan investasi, pekerja rentan terhadap krisis—baik krisis pribadi seperti sakit atau kehilangan pekerjaan, maupun krisis ekonomi yang lebih luas. Literasi keuangan membantu pekerja memahami bahwa keamanan finansial tidak dibangun dari sisa, tetapi dari perencanaan.
Selain itu, di era digital saat ini, akses terhadap produk keuangan semakin luas—mulai dari pinjaman online hingga investasi berbasis aplikasi. Tanpa literasi yang cukup, kemudahan ini justru bisa menjadi jebakan. Banyak pekerja terjerat utang konsumtif dengan bunga tinggi atau tergiur investasi ilegal. Maka, edukasi keuangan menjadi urgensi, bukan pilihan.
Pada akhirnya, memperjuangkan hak buruh tidak cukup hanya soal upah layak, tetapi juga tentang membekali pekerja dengan kemampuan mengelola upah tersebut secara bijak. Hari Buruh bisa menjadi titik balik: dari sekadar menuntut kesejahteraan, menjadi gerakan sadar finansial. Karena kesejahteraan sejati bukan hanya tentang berapa besar penghasilan, tetapi tentang seberapa cerdas kita mengelolanya.
Tentang Penulis:
Dr. Dedy Surahman, S.E., M.M. merupakan Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) yang juga aktif sebagai Wakil Sekretaris LPPK Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua Bidang Ekonomi Pemuda Muhammadiyah Kota Surabaya periode 2023 – 2027.(Ysf)