MALANG // faktaperistiwanews.co —Ketua Lazismu Jawa Timur Prof. Dr. Sigit Hermawan menegaskan bahwa transformasi digital yang fleksibel serta pendekatan emosional yang personal menjadi dua pilar utama dalam mendongkrak penghimpunan dan pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
“Kemudahan akses itu penentu utama. Masyarakat sekarang tidak mau ribet, mereka butuh proses transaksi yang cepat, informasi alokasi dana yang transparan, serta layanan fleksibel kapan saja,” ujar Sigit di hadapan para peserta sertifikasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Sigit saat menyampaikan materi pembekalan teknis dalam agenda Sertifikasi Amil Lazismu Tahun 2026 Batch 2 di UPT Peningkatan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kota Malang, Jumat (16/10/2026). Acara dua hari hingga Sabtu (17/10/2026) ini diampu oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah bersama Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Dalam paparannya, Sigit membedah temuan riset akademis tahun 2025 mengenai faktor penentu keputusan muzakki dalam berdonasi di Lazismu Jawa Timur. Hasil analisis empiris menempatkan variabel kemudahan di posisi teratas dengan bobot pengaruh sebesar 0,315. Urutan berikutnya diisi oleh variabel kepercayaan (0,264), religiusitas (0,234), reputasi (0,163), serta keamanan dan kenyamanan (0,156).
“Faktor kemudahan memegang peranan paling krusial. Muzakki saat ini membutuhkan skema registrasi yang ringkas, kejelasan alokasi program, serta fleksibilitas akses transaksi tanpa batasan waktu dan tempat,” ujar Sigit di hadapan puluhan amil peserta sertifikasi.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Lazismu merancang sejumlah strategi operasional, seperti pengintegrasian sistem pembayaran berbasis QRIS, aplikasi dompet digital, kerjasama perbankan syariah, hingga penyediaan fitur pesan otomatis via WhatsApp untuk layanan jemput zakat.
Selain kemudahan teknis, aspek kepercayaan dipupuk melalui pemenuhan empat indikator utama, yakni integritas pengelolaan, kompetensi SDM terstandar, konsistensi program pemberdayaan, dan loyalitas terhadap amanah syariat.
Namun, Sigit secara terbuka juga memaparkan hasil evaluasi riset tahun 2026 yang mengungkap alasan sebagian muzakki belum memilih Lazismu. Mengacu pada data informan dari kalangan donatur serta pengelola lembaga zakat kompetitor, terdeteksi adanya celah emosional dan komunikasi di lapangan.
“Riset menunjukkan kita masih lemah di pendekatan personal dan storytelling. Pesaing justru unggul karena rajin menyapa donatur secara langsung. Celah komunikasi inilah yang harus segera kita benahi bersama,” kata Ketua Lazismu Jawa Timur.
“Kelemahan utama kita berada pada minimnya pendekatan langsung secara personal, komunikasi yang kurang persuasif, serta belum optimalnya narasi dampak (storytelling) dari program pemberdayaan yang dijalankan. Pesaing justru unggul karena intensif melakukan personal approach dan visualisasi program,” jelas penulis buku monograf Intellectual Capital dan Filantropi Islam tersebut.
Guna menutup celah tersebut, pimpinan Lazismu mewajibkan seluruh amil untuk mengasah keahlian customer service, responsif dalam menangani keluhan, serta rutin menyajikan laporan keuangan dan impact story secara periodik di berbagai kanal publikasi resmi. (Ysf)



