Merawat Masa Depan dari Sudut Kampung Kaliasin

572

Surabaya // faktaperistiwanews.co – Malam baru saja jatuh di kawasan Kaliasin, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya. Riuh rendah suara khas perkampungan padat beradu dengan tawa renyah puluhan remaja setingkat SMP dan SMA yang berduyun-duyun memadati Balai RW 11. Di luar ekspektasi, ruang pertemuan itu mendadak sempit. Kursi-kursi terisi penuh, menyisakan kehangatan yang menjalar di antara obrolan santai namun mendalam tentang sebuah hal yang selama ini kerap dianggap tabu: edukasi seksual (sex education).

Bagi Choirun Nisaa, Wakil Sekretaris Karang Taruna Kecamatan Tegalsari, malam itu bukan sekadar agenda organisasi biasa. Ada sejumput memori personal yang membawanya kembali ke tahun 2012, sebuah titik balik yang mengubah cara pandangnya terhadap pergaulan remaja di kampung kota.

Undangan Nikah yang Mengagetkan
Sambil mengenang masa lalunya, Nisa menceritakan awal mula ia tersentak oleh realitas di sekitarnya. Saat baru saja menyelesaikan Ujian Nasional SMP di sekitar bulan Mei atau Juni, sebuah undangan pernikahan datang ke rumahnya. Pengirimnya adalah teman sebayanya semasa SD yang tinggal di Kaliasih.
Niat hati ingin melihat sang sahabat di pelaminan, Nisa justru mendapati kenyataan lain yang membuatnya tertegun di dalam kamar pengantin. Teman sebayanya itu bersanding dengan perut yang sudah membesar, mengandung sekitar enam atau tujuh bulan.

“Daripada adik-adik kita ini mendapatkan informasi yang salah dari situs web yang menjerumuskan, lebih baik ada edukasi seksual seperti ini agar mereka bisa mengenal diri sendiri,” ungkap Nisa, mengenang kegelisahan masa remajanya.

Nisa paham betul psikologi remaja di usia transisi. Saat duduk di bangku SD, anak-anak mungkin baru sekadar mengidentifikasi perbedaan gender. Namun begitu menginjak SMP, rasa penasaran itu berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih kompleks.

Sayangnya, lingkungan sering kali membentengi rasa ingin tahu tersebut dengan stigma negatif. Alih-alih mendapat jawaban ilmiah, mereka yang bertanya justru kerap dicap mesum atau berotak kotor.
Melalui ruang diskusi malam itu, Nisa bersama rekan-rekan pengurus Karang Taruna Kecamatan Tegalsari ingin memutus rantai ketidaktahuan tersebut. Ia tidak ingin bersikap naif dengan sekadar melarang tanpa memberikan pemahaman.

“Kita tidak bisa benar-benar melarang seseorang, karena ada masanya larangan itu justru dilanggar,” tuturnya dengan nada beralih serius. “Namun, kami ingin ketika mereka melangkah, mereka melakukannya dengan tanggung jawab, sadar akan konsekuensi, dan tidak mengorbankan masa depan mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehamilan di luar nikah atau infeksi menular seksual.”

Kolaborasi Lintas Lini di Balai RW
Gayung bersambut, kegelisahan Nisa menemukan jalannya lewat jejaring yang digerakkan oleh I Ketut Shandy Swastika selaku Sekretaris Umum Karang Taruna Kecamatan Tegalsari. Kehadiran para motor penggerak muda dari internal Karang Taruna Kecamatan, termasuk Wijaya yang mengomandoi Bidang Organisasi dan Pengkaderan, membuat gagasan ini bergulir menjadi aksi nyata yang solid.

Melalui kolaborasi apik dengan teman-teman Gusdurian Surabaya dan mahasiswa Universitas Ciputra, sebuah ruang aman untuk belajar akhirnya berhasil diwujudkan di tengah perkampungan Kaliasin.
Hadirnya tokoh-tokoh penting malam itu, mulai dari Ketua Gusdurian Surabaya Ikke Nurjannah, hingga tim Universitas Ciputra yang dikomandoi oleh Jason Joshua Chandra, S.Hub.Int., M.IP., membuat diskusi yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WIB berjalan sangat hidup. Sesi tanya jawab dipecah dengan berbagai simulasi interaktif yang membuat para remaja tidak canggung untuk bersuara.

Pihak kampung pun membuka pintu selebar-lebarnya bagi inisiatif ini. Bambang Sutrisno, Ketua RW 11 Kelurahan Kedungdoro, memandang sosialisasi semacam ini sebagai benteng penyelamat bagi warganya yang berada di usia rawan.

“Anak-anak kita ini kan masih berada di usia yang labil. Dengan adanya sosialisasi dari tim Universitas Ciputra, mereka diedukasi mengenai batasan serta bahaya seks bebas,” ujar Bambang di sela-sela acara.
Bambang menaruh harapan besar agar malam itu menjadi titik balik bagi anak-anak muda di wilayahnya. Menurutnya, pemahaman yang benar akan melahirkan sikap yang bijak dalam pergaulan sehari-hari.

“Ending-nya, kami berharap mereka bisa bersikap lebih dewasa, tahu cara menjaga diri pribadi, dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan masa depan mereka sendiri,” pungkasnya optimis.
Malam kian larut di Tegalsari, namun Balai RW 11 telah menyalakan satu lentera penting. Sebuah edukasi yang tidak lagi dituduh mesum, melainkan sebuah bekal ilmu agar tunas-tunas muda di perkampungan Surabaya itu bisa tumbuh dan melangkah dengan penuh tanggung jawab.(Ysf)