Suara Ledakan di GKI Diponegoro, Mengubah Trauma Menjadi Ruang Temu Inklusif

661

Surabaya // faktaperistiwanews.co – Lampu di dalam Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro meredup perlahan. Suasana yang semula riuh oleh bisik-bisik ratusan pemuda dari berbagai latar belakang mendadak senyap. Tepat pukul 18.55 WIB, kesunyian itu pecah oleh rekaman audio dentuman bom yang memekakkan telinga, disusul jeritan histeris dan lantunan doa yang tumpang tindih.
Peringatan tragedi bom Surabaya 13 Mei malam itu bukan sekadar seremoni duka. Di bawah tema “Solidaritas Surabaya Inklusif,” acara ini menjadi ruang temu bagi mereka yang menolak lupa sekaligus menolak kalah oleh teror.

Merawat Ingatan di Lokasi Kejadian. Di tengah panggung, seorang actor, disebut sebagai Leader Talent, berteriak dengan nada mencekam, menunjuk ke arah hadirin. “Kalian semua tahu tidak peristiwa apa yang terjadi 13 Mei ini?” tanyanya dengan suara bergetar sebelum menghilang di balik bayangan.
Ike Nurjanah, salah satu inisiator dari Komunitas Gusdurian Surabaya, menjelaskan bahwa kolaborasi ini melibatkan spektrum kelompok yang luas, mulai dari Pemuda Katolik, PMKRI, Idenara, hingga Koalisi Masyarakat Sipil.
“Gusdurian itu wadah. Bukan hanya lintas iman, tapi lintas gender dan komunitas. Kami membawa nilai kemanusiaan dari Gus Dur. Orang-orang merasa nyaman bergabung karena tujuannya jelas: merangkul semua,” ujar Ike di sela-sela acara.

Menolak Terpuruk, Memilih Inklusif. Tragedi bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya pada 2018 silam memang meninggalkan bekas luka yang dalam bagi warga kota. Namun, Emanuel Erlangga, Ketua Pemuda Katolik Kota Surabaya sekaligus perwakilan panitia, menegaskan bahwa acara ini sengaja dirancang agar masyarakat tidak terus-menerus terperangkap dalam trauma.
“Tujuan awal kita memang memperingati, tapi bukan untuk terpuruk. Ini ruang temu agar kita semakin inklusif, menghargai perbedaan agama, ras, dan budaya,” kata Emanuel. Ia mencatat kehadiran perwakilan dari PCNU Surabaya, Ansor, Banser, mahasiswa UINSA, hingga para penghayat kepercayaan sebagai bukti nyata bahwa radikalisme tidak punya tempat di Surabaya.


Suasana semakin emosional saat Andreas Wicaksana membacakan artikel berjudul “Bayu, Martir Persaudaraan,” sebuah pengingat akan pengorbanan Aloysius Bayu Rendra Wardhana yang menghadang motor pelaku bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Beberapa peserta tampak menyeka air mata, sementara yang lain tertunduk dalam diam.

Menangkal Benih Intoleransi. Gerakan berbasis komunitas seperti ini menjadi krusial di tengah dinamika sosial Jawa Timur. Berdasarkan data riset Indeks Kota Toleran dari Setara Institute, Surabaya secara konsisten berupaya berada di jajaran kota toleran, namun tantangan berupa eksklusivitas kelompok tetap ada. Ike Nurjanah sendiri menyoroti bahwa ancaman saat ini tidak melulu soal terorisme fisik.

“Harapannya rasisme, premanisme, dan ormas yang arogan juga hilang. Akhir-akhir ini saya rasa bukan cuma soal teroris, tapi soal eksklusivitas itu tadi yang harus kita lawan,” tegas Ike.

Komitmen di Penghujung Malam. Malam ditutup dengan simbolisme yang kuat. Setelah Pendeta Andri menyampaikan pesan perdamaian, seluruh perwakilan komunitas berdiri bersama untuk membacakan “Ikrar Pemuda Surabaya.”
Di bawah temaram lampu gereja, doa lintas iman yang dipimpin oleh Dian Jeanny menutup rangkaian acara tepat pukul 21.00 WIB. Tidak ada lagi suara ledakan atau teriakan ketakutan. Yang tersisa hanyalah ratusan orang yang saling berjabat tangan dan berswafoto bersama—sebuah potret sederhana dari kota yang menolak untuk dicerai-beraikan oleh kebencian.(Ysf)