SIDOARJO || faktaperistiwanews.co – Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Jawa Timur menggelar Kopdar Media & Workshop Jurnalistik Filantropi di Cafe Limasan, Sidodadi, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (20/10). Kegiatan yang berlangsung marathon pukul 08.00 hingga 16.30 WIB ini berfokus pada strategi penguatan media digital guna mengoptimalkan penghimpunan dan pendayagunaan dana ZISKA (Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Keagamaan Lainnya).
“Tujuannya meningkatkan kemampuan kru media di daerah agar seluruh program kerja bisa tersampaikan ke publik secara transparan. Kalau narasi dan pelaporannya jelas, kepercayaan muzaki serta donatur otomatis ikut menguat,” ujar Sigit.
Ketua Lazismu Jawa Timur, Prof. Dr. Sigit Hermawan, S.E., M.Si., menegaskan bahwa penyatuan barisan awak media Lazismu dari berbagai daerah di Jawa Timur menjadi prioritas utama. Langkah ini ditujukan untuk mendongkrak kompetensi teknis sekaligus mengubah pola pikir (mindset) pengelola publikasi agar lebih profesional dalam menyampaikan program lembaga.
“Kami menghimpun kembali rekan-rekan media daerah untuk meningkatkan kemampuan mereka. Harapannya, seluruh program kerja dan manfaat kegiatan dapat tersampaikan transparan kepada publik, utamanya para muzaki dan donatur. Ini kunci utama memperkuat kepercayaan masyarakat,” ujar Sigit di sela acara.

Dalam pemaparannya, Sigit mengulas secara komprehensif rantai pengelolaan ZISKA yang mencakup dua proses saling terhubung: kemudahan akses penghimpunan dan ketepatan sasaran pendayagunaan. Ia menyoroti pentingnya segmentasi saluran komunikasi, mulai dari WhatsApp untuk layanan langsung, Instagram dan TikTok untuk narasi visual, portal resmi untuk akuntabilitas data, hingga media cetak dan majelis kajian untuk masyarakat non-digital.
Meski mendorong konsistensi konten dan keterbukaan laporan keuangan, pakar akuntansi filantropi ini memberikan peringatan keras terkait etika jurnalistik kemanusiaan. Pengungkapan cerita penerima manfaat (mustahik) wajib dilakukan tanpa merendahkan martabat maupun melanggar privasi.
“Media filantropi harus bergerak dengan etika. Jangan sampai demi konten lalu melanggar privasi atau merendahkan orang lain. Informasi yang disajikan harus singkat, benar, bermanfaat, serta mengajak tanpa memaksa,” tegasnya.
“Kondisi lingkungan seperti kekeringan di Jawa Timur ini dampaknya sangat masif. Media Lazismu harus mengambil peran untuk mengabarkan kondisi riil di lapangan agar terbangun semangat gotong royong di tengah masyarakat,” tutur Sigit.
Tak sekadar penguatan internal, Sigit juga mendorong awak media aktif menjadi penyambung lidah atas krisis lingkungan yang tengah melanda Indonesia, seperti bencana kekeringan di Jawa Timur maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Media dinilai memiliki peran vital dalam membangun gotong royong publik saat tanggap darurat.
“Kondisi lingkungan seperti kekeringan di Jawa Timur terjadi sangat masif. Lazismu Jatim sendiri telah menyalurkan bantuan hingga 3 juta liter air bersih, salah satunya ke kawasan rawan seperti Bojonegoro. Media harus hadir mengetuk kepedulian masyarakat agar aksi kemanusiaan dan penyelamatan lingkungan ini bisa berkelanjutan,” tutur Sigit. (Yusdwiya)



