Surabaya || faktaperistiwanews.co – “Mahameru itu mayoritas anggotanya driver online, yang di mana saya ingin para driver online ini pendapatan utamanya tidak hanya menjadi driver online. Mereka harus bisa menjadi pelaku usaha seperti UMKM,” ujar Fonny DM dengan nada bicara yang penuh penekanan.
Ketua Mahameru yang akrab disapa Fonny itu memandang, ketergantungan pada satu sumber penghasilan di jalanan perlahan harus diubah. Baginya, masa depan kesejahteraan para pengemudi ojek maupun taksi online terletak pada diversifikasi keahlian, mulai dari berdagang hingga membuka jasa servis kendaraan.
Kekhawatiran Fonny sejalan dengan temuan Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Data riset tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 70% pekerja informal di sektor transportasi daring tidak memiliki tabungan darurat yang cukup akibat skema insentif yang fluktuatif. Kerentanan finansial inilah yang mendesak komunitas akar rumput untuk mencari alternatif penghasilan di luar aspal.

Langkah konkret menuju kemandirian ekonomi tersebut dibahas secara mendalam dalam forum komunikasi atau kopdar yang digelar di Warkop Stella, Jalan Karang Menjangan 2/77. Di sela-sela diskusi, hadir pula Pembina Mahameru, Vivi Yuliawati, S.E., yang ikut memberikan pengarahan strategis terkait manajemen usaha bagi para anggota. Puluhan pengemudi dari berbagai aplikator tampak berkumpul, mengabaikan sengatan udara siang yang membakar kawasan tersebut pada Senin, 8 Juni 2026.
Di tengah riuhnya suasana warung kopi, obrolan mengenai masa depan komunitas mengalir tanpa sekat. Gelak tawa sesekali pecah, mencerminkan ikatan kekeluargaan yang kuat di antara anggota.
Fonny menjelaskan bahwa pertemuan rutin bulan ini difokuskan untuk menyaring anggota baru. Pengurus ingin memastikan setiap orang yang bergabung memiliki kesamaan visi. Ekspansi gerakan ini pun tidak main-main, cakupannya kini mulai meluas ke luar wilayah Surabaya hingga mencakup berbagai daerah di Jawa Timur.
Slogan ‘Guyub Rukun dan Amanah’ yang diusung komunitas ini bukan sekadar pemanis kaus seragam. Komunitas ini sedang merajut jejaring yang lebih luas agar para anggotanya mendapat perlindungan yang layak.
“Kita di sini juga pengin bersinergi dari beberapa pihak, maupun pemerintahan, maupun pelaku usaha, bisa semuanya. Hukum pun kami juga memerlukan itu, supaya kita ada payung hukumnya,” pungkas Fonny mengakhiri perbincangan.(Ydw)



