Warning

: Trying to access array offset on false in /home/anakkote/faktaperistiwanews.co/wp-content/themes/publisher/includes/libs/bs-theme-core/theme-helpers/template-content.php on line 1164

Warning: Trying to access array offset on false in /home/anakkote/faktaperistiwanews.co/wp-content/themes/publisher/includes/libs/bs-theme-core/theme-helpers/template-content.php on line 1165

Warning: Trying to access array offset on false in /home/anakkote/faktaperistiwanews.co/wp-content/themes/publisher/includes/libs/bs-theme-core/theme-helpers/template-content.php on line 1166

Warning: Trying to access array offset on false in /home/anakkote/faktaperistiwanews.co/wp-content/themes/publisher/includes/libs/bs-theme-core/theme-helpers/template-content.php on line 1177

Seminar Nasional Forum Ilmiah Guru, Ini Pesan Wali Kota Surabaya

Surabaya, faktaperistiwanews.co.id – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjadi Keynote Speaker (pemberi materi) dalam Seminar Nasional dan Forum Ilmiah Guru dan tenaga pendidikan di Graha Sawunggaling Surabaya, kemarin (23/11).

Seminar nasional tersebut, mengangkat tema `Gelorakan Literasi Numerasi, Wujudkan Profil Pelajar Pancasila` digelar dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional (HGN) Tahun 2021.

“Seharusnya para guru harus terus meningkatkan kemampuan personalnya dengan adanya berbagai literasi. Dengan cara itu, diharapkan murid-muridnya juga punya keinginan dan kemampuan untuk membaca berbagai literasi.

“Saya berharap, peringatan HGN ini bisa menciptakan kebahagiaan, kebersamaan antar sistem di sekolah negeri dan swasta,” kata Wali Kota Eri Cahyadi.

Bahkan, dikatakan kembali, antara sekolah negeri dan swasta di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan tanggung jawab Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya harus menjadi keluarga besar.

Ketika menjadi keluarga besar itulah pasti ada senyum dan kebersamaan, sehingga apabila ada kekurangan bisa dilengkapi bersama-sama.

“Dengan cara ini, di Kota Surabaya tidak ada lagi yang tidak bisa sekolah, tidak ada kekurangan murid, tidak ada lagi yang tidak bisa membangun sarana dan prasarana (Sarpras), dan tidak ada lagi persaingan guru antara negeri dan swasta.

Nah, itu tugasnya siapa? Ya tugas saya dan Pemkot Surabaya. Makanya, saya berharap jadi satu kesatuan. Saya yakin semangat HGN kita bisa menjadi hebat lagi dan lebih bagus lagi ke depan, dan itu kita buktikan nanti di pelaksanaan anggaran 2022,” tegas Eri Cahyadi.

Dia menjelaskan lebih rinci berbagai rencana untuk menyatukan sekolah negeri dan swasta di Surabaya. Salah satunya harus ada kesepakatan di awal terkait dengan jumlah guru.

Dicontohkannya bahwa, apabila ada seorang guru di sekolah A kekurangan jam mengajar, sedangkan di sekolah B kelebihan mengajar.

“Terus ini mau diapakan? Nanti biar sekolah yang menghitung sendiri, nanti pindah ke sekolah B misalnya. Ini harus bisa terwujud dan saya yakin dengan MKKS swasta, hal itu yakin bisa terwujud,” ungkapnya.

Selain itu, kata Eri, apabila ada sekolah swasta butuh infrastruktur. Maka, sekolah negeri lebih mengalah dulu kalau memang sudah bagus. Sehingga, harus bergantian. Bahkan, mantan Kepala Bapekko berharap, sekolah negeri sadar bahwa sekolah swasta itu partner dan bukan saingannya.

“Kalau sudah begitu, maka anak-anak saya di Surabaya mau masuk negeri senang dan mau masuk swasta ya senang, karena antara SD dan SMP menempuh 9 tahun belajar merupakan tanggung jawab saya,” terangnya.

Oleh karena itu, Eri menegaskan bahwa, apabila masih ada anak SD dan SMP yang menyampaikan bahwa sekolahannya jelek dan tidak nyaman, maka itu tanggungjawab Pemkot Surabaya. “Dan saya harus ikut hadir di situ,” tandas dia.

Meski begitu, harus ada kesepakatan bersama antara sekolah negeri dan swasta, terutama jika muncul sekolah baru.

Kira-kira sampai tahun berapa harus dibangun dan sekolah dimana saja yang harus dibangun pada anggaran berikutnya. Sebab, lanjut Eri Cahyadi, tidak mungkin dicover semua dalam satu tahun anggaran.

“Jadi, kita harus punya timeline. Kalau sudah terbuka semua seperti ini, saya yakin konco-konco (rekan-rekan, red) bisa mengerti,” imbuhnya.

Makanya, yang saya jelaskan tadi, kalau guru negeri dan swasta kumpul bareng dan ada tawa ceria, berarti sudah ada kebersamaan.

“Saya yakin musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) negeri dan MKKS swasta bisa bersatu,” pungkas Eri Cahyadi. (vn/yud)