Warning

: Trying to access array offset on false in /home/anakkote/faktaperistiwanews.co/wp-content/themes/publisher/includes/libs/bs-theme-core/theme-helpers/template-content.php on line 1164

Warning: Trying to access array offset on false in /home/anakkote/faktaperistiwanews.co/wp-content/themes/publisher/includes/libs/bs-theme-core/theme-helpers/template-content.php on line 1165

Warning: Trying to access array offset on false in /home/anakkote/faktaperistiwanews.co/wp-content/themes/publisher/includes/libs/bs-theme-core/theme-helpers/template-content.php on line 1166

Warning: Trying to access array offset on false in /home/anakkote/faktaperistiwanews.co/wp-content/themes/publisher/includes/libs/bs-theme-core/theme-helpers/template-content.php on line 1177

PTM 100 Persen Masih Dievaluasi, Ini Kata Kadispendik Surabaya

Surabaya, faktaperistiwanews.co.id – Dinas Pendidikan (Dispendik) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya masih menunggu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 untuk Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen.

Saat ini, pembelajaran pada tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Surabaya masih dilakukan secara bergantian, yakni PTM 50 persen dan daring 50 persen dengan durasi 6 jam.

Seiring ditetapkan PPKM Level 2 di Kota Surabaya, maka mulai Senin (14/3), kemarin PTM SD-SMP diterapkan 50 persen bergantian tanpa sesi. Sedangkan, 50 persen lagi mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sistem daring.

“Kita terus mengevaluasi, mudahan-mudahan PPKM di Surabaya terus turun ke Level 1, serta bisa menuju ke 100 persen PTM,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Pemkot Surabaya, Ir. Yusuf Masruh, M.M., Rabu (16/3/2022).

Menurutnya, apabila nanti PTM diterapkan 100 persen, maka tentu di awal pola yang dijalankan tetap menyesuaikan kondisi sekolah. Sebab, setiap sekolah memiliki ruangan kelas yang kapasitasnya berbeda.

“Acuan kita tetap pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri dan PPKM Inmendagri. Kalau sudah level 1 sangat memungkinkan 100 persen pakai shift, kita lakukan. Karenanya, kondisi sekolah variatif, ada yang luasan kelas lebar, ada pula kecil,” ungkap Yusuf Masruh kepada faktaperistiwanews.co.id.

Namun demikian, dikatakan kembali, ketika nanti penerapan dengan pola shift tidak berdampak negatif, maka dimungkinkan PTM lanjutnya bisa dilaksanakan murni 100 persen.

Di sisi lain, Yusuf juga memastikan tetap melakukan evaluasi penerapan PTM 100 persen dengan pola shift tersebut. Kalau sudah PPKM Level 1, PTM akan diterapkan 100 persen pakai shift.

“Kita uji coba terlebih dahulu dengan penyesuaian kondisi ruang kelas. Nah, kalau cukup memungkinkan, maka PTM 100 persen murni tanpa shift,” katanya.

Meski begitu, Yusuf juga berharap kepada anak-anak, maupun tenaga pendidik dapat terus beradaptasi penyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Termasuk pula menjaga kebiasaan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan (Prokes).

“Kita harus bisa menjamin sekolah tetap aman bagi anak-anak. Maka itu, sekolah juga tetap menyiapkan pembelajaran melalui hybrid, 50 PTM, dan 50 persen daring,” paparnya.

Yusuf juga mengingatkan kepada pihak penyelenggara sekolah agar tetap memastikan Satgas Covid-19 mandiri maupun prokes berjalan. Dengan asumsinya saat anak-anak maupun guru datang ke sekolah, maka mereka harus dicek suhu tubuh dan mencuci tangan.

“Kami harapkan kalau suhu tidak sesuai standar atau di atas 37,5 derajat bisa langsung koordinasi dengan Puskesmas. Karena, ini kan untuk menumbuhkan rasa kepercayaan bagi orang tua menitipkan anaknya di sekolah,” pesannya. (Vn/Yud)